Palangka Raya, pilarkalimantan.com – Menyemarakkan Kalteng Expo 2026 dan Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah, Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Diskominfosantik) Kalteng menggelar podcast bertema “Perspektif Generasi Muda dalam Pelestarian Budaya di Kalimantan Tengah” melalui kanal YouTube resmi mereka.
Kegiatan yang dikemas santai namun berbobot ini dilaksanakan pada Jumat (22/05/26), bertempat di area Kalteng Expo 2026, halaman GOR Indoor Serbaguja, Palangka Raya. Ratusan pengunjung expo tampak antusias menyaksikan diskusi yang juga disiarkan secara live streaming.
Dipandu oleh host Anggelina Rentika Karolina, podcast ini menghadirkan dua figur muda inspiratif sekaligus pemain film _Tanah Dayak_, yakni Dela Pitriani (2nd RU Putri Kebudayaan Nusantara 2024) dan Bobbitya Putra W (Duta Humas Polda Kalteng 2026). Kehadiran keduanya membuat suasana diskusi semakin hidup dan relevan dengan audiens anak muda.
Diskusi ini mengupas tuntas peran krusial generasi muda dalam menjaga eksistensi budaya lokal di era digital yang penuh tantangan dan arus informasi global.
Dalam perbincangan tersebut, Dela Pitriani menekankan bahwa pemuda memegang tanggung jawab besar untuk menjaga identitas daerah agar tidak tergerus zaman. Menurutnya, pelestarian budaya tidak harus kaku dan kuno, melainkan bisa dikemas menarik agar diminati anak muda.
“Sekarang semua ada di genggaman. Kalau kita nggak aktif memperkenalkan budaya Dayak lewat media sosial, siapa lagi? Kita bisa bikin konten tari Hudoq, manasai, atau cerita rakyat jadi viral. Yang penting konsisten dan bangga,” ujar Dela yang juga aktif sebagai duta kebudayaan.
Ia mencontohkan pengalamannya saat syuting film _Tanah Dayak_ yang membuat banyak anak muda penasaran dengan bahasa dan adat istiadat Dayak. “Ternyata kalau dikemas dengan cerita yang kuat, anak muda jadi tertarik belajar,” tambahnya.
Senada dengan hal itu, Bobbitya Putra W menambahkan bahwa kebudayaan Kalteng memiliki potensi global yang besar jika dikemas secara kreatif dan inovatif oleh generasi muda. Ia menilai kolaborasi antara unsur adat, pemerintah, dan konten kreator lokal bisa menjadi kunci.
“Kalteng itu kaya. Ada seni ukir, sastra lisan, musik karungut, sampai tradisi Huma Betang yang nilai-nilainya universal. Tinggal bagaimana kita mengemasnya dengan cara yang relate dengan anak muda zaman sekarang. Bisa lewat film pendek, podcast, bahkan game,” kata Bobbitya yang juga dikenal sebagai kreator konten edukasi.
Ia berharap lebih banyak ruang kreatif disediakan pemerintah agar anak muda bisa berekspresi sekaligus mempromosikan budaya. “Jangan sampai budaya kita hanya jadi dokumentasi. Harus hidup dan berkembang,” tegasnya.
Melalui program ini, Diskominfosantik Prov. Kalteng berkomitmen menyediakan ruang edukasi digital yang positif, sekaligus mengajak seluruh masyarakat khususnya generasi muda untuk bersama-sama merawat warisan budaya sebagai identitas bangsa. Podcast ini merupakan bagian dari strategi komunikasi publik Pemprov Kalteng untuk menjangkau audiens milenial dan Gen Z.
Kepala Diskominfosantik Kalteng Agus Siswadi yang hadir meninjau kegiatan mengatakan, podcast menjadi media efektif untuk menyampaikan pesan pembangunan dan kebudayaan dengan bahasa yang lebih dekat ke anak muda.
“Kita ingin Kalteng Expo 2026 tidak hanya jadi pameran dagang, tapi juga ruang diskusi dan edukasi. Anak muda harus jadi garda terdepan pelestarian budaya. Kalau bukan kita, siapa lagi,” ujarnya.
Rekaman lengkap podcast “Perspektif Generasi Muda dalam Pelestarian Budaya di Kalimantan Tengah” dapat disaksikan di kanal YouTube Diskominfosantik Kalteng. ( red )
