Skip to content
PILAR KALIMANTAN

PILAR KALIMANTAN

Magazine WP Theme

  • Kalimantan Tengah
    • Pemprov Kalteng
    • Pemkot Palangka Raya
    • Pemkab Murung Raya
    • Pemkab Barito Selatan
    • Pemkab Barito Timur
    • Pemkab Barito Utara
    • Pemkab Gunung Mas
    • Pemkab Kapuas
    • Pemkab Katingan
    • Pemkab Kotawaringin Barat
    • Pemkab Kotawaringin Timur
    • Pemkab Lamandau
    • Pemkab Pulang Pisau
    • Pemkab Seruyan
    • Pemkab Sukamara
  • Legislatif
    • DPRD Barito Selatan
    • DPRD Barito TImur
    • DPRD Barito Utara
    • DPRD Gunung Mas
    • DPRD Kapuas
    • DPRD Katingan
    • DPRD Kobar
    • DPRD Kotim
    • DPRD Lamandau
    • DPRD Murung Raya
    • DPRD Palangka Raya
    • DPRD Prov Kalteng
    • DPRD Pulang Pisau
    • DPRD Seruyan
    • DPRD Sukamara
  • Kabar Kalimantan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Selatan
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Nasional
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Opini

Kadishut Kalteng Dorong Sekolah Jangka Benah: Ubah Sawit Monokultur Jadi Agroforestri

Elianto 17 Juni 2025

Oplus_131072

Palangka Raya, pilarkalimantan.com — Upaya mengurai kerumitan pengelolaan hutan di Kalimantan Tengah kembali diperkuat lewat pelatihan Sekolah Jangka Benah yang digelar WWF Indonesia di Palangka Raya, Selasa (17/06/25). Forum belajar ini diharapkan menjadi ruang bertukar gagasan bagi masyarakat dan para pendamping perhutanan sosial agar mampu menjaga hutan tanpa meninggalkan aspek penghidupan.

Kepala Dinas Kehutanan Kalteng, Agustan Saining, menegaskan bahwa program perhutanan sosial masih punya banyak pekerjaan rumah, terutama soal kepastian hukum di lapangan. Meski sudah dibantu Satgas Garuda, ia mengakui belum semua masalah tuntas.

“Potensi kita besar, tapi realisasinya belum maksimal. Pelatihan seperti ini sangat membantu meningkatkan kemampuan masyarakat,” ujar Agustan.

Salah satu fokus Sekolah Jangka Benah adalah mendorong transformasi dari kebun sawit monokultur menjadi agroforestri — pola tanam campur antara sawit dan tanaman lain. Dengan cara ini, fungsi hutan diharapkan bisa pulih perlahan tanpa mematikan mata pencaharian warga.

Agustan mencatat, hingga saat ini kawasan perhutanan sosial di Kalteng sudah mencakup sekitar 400 ribu hektare. Namun, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan potensi hutan yang bisa dikelola bersama masyarakat.

“Satgas Garuda sudah menjadi arah penanganan, tapi belum semua persoalan di lapangan selesai. Jadi peningkatan kapasitas masyarakat tetap jadi kunci,” tambahnya.

Perwakilan WWF Indonesia, Simon, menambahkan bahwa Sekolah Jangka Benah memang dirancang sebagai jawaban atas persoalan kebun sawit monokultur yang telanjur membentang di kawasan hutan.

“Lewat pendekatan agroforestri, kita ingin ada kebun sawit campur tanaman lain. Fungsi ekologis hutan bisa pulih, tapi pendapatan masyarakat tetap aman,” tegas Simon.

Ke depan, Dishut Kalteng berharap pola belajar semacam ini bisa menjalar ke lebih banyak kawasan, memperkuat sinergi antara warga, pendamping, dan pemerintah demi kelestarian hutan yang tetap mendatangkan manfaat ekonomi.(Es)

Bagikan Berita
Share

Post navigation

Previous Walikota Palangka Raya Memberikan Apresiasi Kepada Seluruh Jajaran Pemerintah Kota Yang Ikut Aktip dalam Pembagunan
Next Walikota Palangka Raya Perkuat Pelayanan Publik yang Harmonis dan Bermartabat

Sebelumnya

Densus 88 dan Insan Pers Kalteng Bersinergi Cegah Radikalisme

Densus 88 dan Insan Pers Kalteng Bersinergi Cegah Radikalisme

15 Januari 2026
Dandim 1013 Mtw menggelar coffee break Bersama insan Perss di Balai Komando

Dandim 1013 Mtw menggelar coffee break Bersama insan Perss di Balai Komando

9 Januari 2026
IWO Bartim dan IPJI Kalteng Perkuat Sinergi Antar Pekerja Pers

IWO Bartim dan IPJI Kalteng Perkuat Sinergi Antar Pekerja Pers

9 Januari 2026

Tentang Kami

  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Redaksi
| DarkNews by AF themes.