Anggota DPRD Kabupaten Barito Utara, Ardianto saat ditemui awak media. (Foto : Candra)
Muara Teweh, pilarkalimantan.com – Kasus pembunuhan yang terjadi di wilayah kalteng- kaltim tepatnya Desa Benangin II, Kecamatan Teweh Timur Kabupaten Barito Utara, beberapa waktu lalu, memicu perhatian luas dan kekhawatiran di tengah Masyarakat termasuk dari kalangan DPRD Kabupaten Barito Utara.
Anggota DPRD Kabupaten Barito Utara, Ardianto menyampaikan bahwa insiden yang menimbulkan sejumlah korban jiwa tersebut berdampak pada kondisi psikologis warga setempat.
Ia juga turut menyampaikan keprihatinannya sekaligus mengeluarkan sejumlah imbauan guna menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Legislator Partai Demokrat Barito Utara tersebut menekankan pentingnya kehati-hatian masyarakat dalam menyampaikan pernyataan maupun menyebarkan informasi melalui media sosial guna mencegah munculnya spekulasi atau informasi yang dapat memperkeruh suasana.
“Kami mengimbau masyarakat agar bijak dalam berstatement dan memposting informasi di media sosial, sehingga tidak menimbulkan keresahan baru,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Selain itu, Ardianto juga meminta aparat keamanan, khususnya kepolisian dan TNI melalui Koramil setempat, untuk meningkatkan pengamanan secara aktif di wilayah terdampak, terutama di Desa Benangin 1 dan Desa Benangin 2.
“Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas secara aman dan nyaman pascakejadian,” imbuhnya.
Ardianto menyoroti pentingnya pemulihan kondisi psikologis warga, terutama keluarga korban. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama dan tokoh masyarakat, untuk turut berperan dalam memberikan pendampingan serta penguatan moral.
“Pendekatan persuasif dan nasihat dari tokoh masyarakat sangat dibutuhkan, baik kepada keluarga korban maupun pihak terkait lainnya,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan pentingnya penyelesaian konflik secara damai, khususnya yang berkaitan dengan persoalan usaha maupun sengketa lahan, yang kerap menjadi pemicu konflik di sejumlah daerah.
“Masyarakat sebaiknya mengedepankan musyawarah serta melibatkan aparat setempat, mulai dari tingkat RT, pemerintah desa, hingga kecamatan, guna mencari solusi bersama agar tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar,” ungkapnya.
Ia berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi dan menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk memperkuat sistem sosial serta menjaga keharmonisan di tengah Masyarakat. (Candra)
